Tag Archives: antara news

AS, Rusia Mulai Lagi Kerja Sama Militer

6

Ilustrasi (ANTARA/Grafis/Reuters)

AS, Rusia Mulai Lagi Kerja Sama Militer

Moskow (ANTARA News) – Rusia dan AS, Senin, menandatangani perjanjian untuk memulai lagi kerja sama militer kedua negara yang ditangguhkan Agustus karena konflik di Georgia.

“Kerangka kerja baru itu akan menetapkan kondisi yang akan meningkatkan kerja sama militer ke tingkat baru dan pengertian bersama yang mendalam antara pasukan bersenjata kami masing-masing,” Gedung Putih mengatakan dalam satu pernyataan seperti dilaporkan AFP.

Pernyataan itu menyatakan bahwa kegiatan militer kedua negara telah dihentikan Agustus tahun lalu. Pada pekan pertama bulan itu bahwa perang singkat meletus antara Rusia dan Georgia.

Perjanjian untuk memulai lagi kerja sama militer itu ditandatangani di Kremlin oleh Laksamana AS Mike Mullen dan Jenderal Rusia Nikolai Makarov, dengan disaksikan Presiden Barack Obama dan Dmitry Medvedev. (*)

AS, AS berita, AS kini, AS dunia, AS asia, AS malaysia, AS melayu, AS indon, AS indonesia, AS kl, AS foto, AS gambar, AS terkini, AS web, AS harian, AS baru, AS bf1, beritabf1, berita bf1, berita kini, beritakini, berita malaysia, berita indon, berita indonesia, berita dunia, berita harian, berita majalah, berita baru, berita asia, berita artis, berita hiburan, berita kawan, berita politik

Xinjiang Bergolak, Warga China Perang di Internet

5

Dua orang Polisi berdiri di depan bangkai kendaraan yang dirusak dalam kerusuhan hari Minggu (5/7) di Urumqi, Xinjiang Uighur Autonomous Region, China, Senin (6/7). (FOTO ANTARA/REUTERS)

Xinjiang Bergolak, Warga China Perang di Internet

Shanghai (ANTARA News/Reuters) – Warga China menumpahkan kemarahan mereka secara online terhadap kerusuhan etnis di provinsi muslim Xinjiang yang setidaknya merenggut 156 nyawa namun mesti main petak umpet untuk menghindari sensor pemerintah yang berusaha menghapus pesan yang diposting dan blog-blog berisi kecaman.

Kebanyakan dari komentar itu menuntut hukuman keras terhadap mereka yang terlibat, seakan bersesuaian dengan tuduhan media massa pemerintah terhadap aktivis Uighur di pengasingan,
Rebiya Kadeer, sebagai otak kerusuhan di Urumqi, Minggu.

Hampir setengah dari 20 juta penduduk provinsi Xinjiang adalah Uighur Muslim, namun mereka sudah lama mengeluhkan etnis Han China karena lebih sering diuntungkan oleh investasi dan subsidi pemerintah pusat, sementara sebagian besar rakyat beragama Islam yang lebih memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan Asia Tengah, merasa terpinggirkan.

Disamping Tibet, Xinjiang adalah salah satu dari wilayah China yang secara politik sangat sensitif dan di kedua wilayah itu pemerintah berupaya mengetatkan cengkeramannya dengan mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi.

“Hancurkan konspirasi, tindak tegas para penyabot, serang lebih keras lagi,” demikian bunyi pesan yang diposting melalui satu blog milik seseorang yang dikenali dengan “Chang Qing” dalam portal www.sina.com.cn.

Sementara beberapa lainnya memperingatkan bahwa etnis Han, yang menjadi suku mayoritas di China, akan membalas dendam.

“Utang darah dibayar darah. Rekan-rekan sesama Han bersatulah dan bangkitlah,” tulis “Jason” dalam search engine www.baidu.com.

Beberapa pihak lainnya memuja arwah Wang Zhen, jenderal China yang menghinakan dan ditakuti banyak orang Uighur karena keberingasannya saat memimpin pasukan komunis China memasuki Xinjiang pada 1949 untuk memasukkan wilayah itu ke negara baru, Republik Rakyat China.

“Camkan ini baik-baik,” bunyi satu pesan yang diposting di atas kisah singkat penaklukan Wang yang diambil dari buku sejarah China.

Namun, tak sedikit orang yang berusaha memahami penderitaan orang-orang Uighur.

“Jika anggota keluargamu tidak punya hak, tidak punya kekuasaan, menghadapi diskriminasi dan ditertawakan, maka tidak hanya keluargamu yang hancur, kamu sendiri yang menanam benih-benih permusuhan,” tulis “Bloody Knife”.

Seseorang berinisial “zfc883919” menulis di portal Xinjiang www.tianya.cn, bahwa tidak bisa memahami mengapa polisi membiarkan begitu banyak korban mati di sana.

“Apa gerangan yang kalian kerjakan? Itu 156 jiwa manusia. Saya berharap pihak berwenang yang menangani ini benar-benar mau belajar sehingga targedi seperti ini tidak terulang.”

Pihak berwenang segera mengambil langkah cepat menghapus komentar-komentar berbau kekerasan itu, terutama untuk mencegah menyebarnya kebencian etnis atau pertanyaan awam di Internet terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah di kawasan yang didominasi etnis-etnis minoritas non Han.

Banyak blog yang hanya memposting kembali artikel-artikel dari media setempat mengenai kerusuhan itu, namun pada bagian dimana pembaca diundang untuk berkomentar, tertulis, “Tidak ada komentar untuk sementara waktu ini,” suatu hal yang tidak biasa di tengah populernya blog di kalangan 300 juta pengguna internet di China.

Sejumlah laman yang memposting tayangan grafis mengenai tubuh-tubuh yang habis dipukuli dan berdarah-darah, yang diambil selama atau setelah kerusuhan, juga dengan cepat dihapus. (*)

Xinjiang, Xinjiang berita, Xinjiang kini, Xinjiang dunia, Xinjiang asia, Xinjiang malaysia, Xinjiang melayu, Xinjiang indon, Xinjiang indonesia, Xinjiang kl, Xinjiang foto, Xinjiang gambar, Xinjiang terkini, Xinjiang web, Xinjiang harian, Xinjiang baru, Xinjiang bf1, beritabf1, berita bf1, berita kini, beritakini, berita malaysia, berita indon, berita indonesia, berita dunia, berita harian, berita majalah, berita baru, berita asia, berita artis, berita hiburan, berita kawan, berita politik

Pemimpin Uighur di Pengasingan Tolak Tuduhan China

3

Pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Jalan Dawannanlu, Urumqi, Xinjiang UygurAutonomous Region, China, Minggu (5/7), dalam foto yang dirilis oleh kantor berita resmi China Xinhua. Kekerasan yang terjadi di Urumqi, pada Minggu (5/7) (ANTARA/REUTERS/Xinhua-Shen Qiao)

Pemimpin Uighur di Pengasingan Tolak Tuduhan China

Washington (ANTARA News/Reuters) – Perempuan pengusaha Uighur di pengasingan yang juga aktivis Rebiya Kadeer, Senin, menolak tuduhan pemerintah China bahwa dia berada di belakang kerusuhan yang berkecamuk di provinsi barat daya China, Xinjiang, di mana 156 orang dilaporkan tewas.

Media massa pemerintah China mengutip sejumlah pejabat yang tak disebutkan namanya, menyalahkan Kongres Uyghur Sedunia pimpinan Kadeer telah melakukan kekerasan, menyusul demonstrasi suku minoritas Uighur di jalan-jalan ibukota provinsi Urumqi, Minggu, dengan membakar serta melempari kendaraan-kendaraan dan toko-tokok, disamping juga bentrok dengan polisi.

“Tuduhan itu sama sekali keliru. Saya tidak mengorganisasikan protes apapun atau menyerukan rakyat untuk berdemonstrasi,” kata Kadeer melalui seorang penerjemahnya di Washington.

Kepada wartawan, Kadeer mengatakan bahwa dia hanya meminta saudara lelakinya untuk mengingatkan 40 sanak keluarga mereka di kawasan agar menjauhi demonstrasi.

“Seruan saya kepada saudara saya itu itu berarti saya mengorganisasikan seluruh peristiwa itu,” katanya.

Perempuan pengusaha berusia 62 tahun dan ibu dari 11 anak ini, berada di pengasingannya di Amerika Serikat sejak 2005, setelah bertahun-tahun di penjara dan dituduh melakukan kegiatan separatisme.

Kadeer mengatakan ada lima anak dan sembilan cucunya yang berada di Xinjiang, termasuk dua anak puteranya. Semua sanak keluarganya ini mengalami pengawasan yang amat ketat dan Kadeer menyerukan saudara lelakinya agar mereka berpencar guna mengindari tindakan lebih keras dari pemerintah.

Kadeer, yang pernah digadang-gadangkan sebagai pengusaha minoritas sukses sehingga disebut-sebut akan menjadi anggota lembaga konsultatif pada parlemen China sebelum kemudian berbenturan dengan Beijing, menyebut protes massa di Urumqi itu mulanya berlangsung damai sebagai unjuk reaksi mereka atas menjawab kematian dua buruh pabrik etnis Uighur di selatan China, bulan lalu.

“Mereka tidak melakukan kekerasan sebagaimana dituduhkan pemerintah China. Mereka bukan perusuh atau separatis,” katanya.

Ketika ditanya mengapa dia disalahkan atas percekcokan in, Kadeer menyamakan situasi yang sedang dihadapinya dengan keadaan yang dihadapi pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama. Protes dengan kekerasan merebak di Tiibet pada awal 2008.

“Apapun yang terjadi di Tibet, pihak berwenang China dengan cepat menuduh Yang Mulia Dalai Lama sebagai sumber kekacauan dan penghasut untuk semua masalah yang terjadi di Tibet, dan kejadian seperti itu berlaku terhadap saya,” kata Kadeer. (*)

China, China berita, China kini, China dunia, China asia, China malaysia, China melayu, China indon, China indonesia, China kl, China foto, China gambar, China terkini, China web, China harian, China baru, China bf1, beritabf1, berita bf1, berita kini, beritakini, berita malaysia, berita indon, berita indonesia, berita dunia, berita harian, berita majalah, berita baru, berita asia, berita artis, berita hiburan, berita kawan, berita politik