Investasi Diprediksi Naik 5%

Investasi Diprediksi Naik 5%

3

Investasi Diprediksi Naik 5%

JAKARTA – Pemerintah optimistis pertumbuhan investasi tahun ini bisa mencapai lima persen.Hal ini seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diprediksi 4,5-5 persen atau di atas target APBN-P sebesar 4,3 persen.

“Dengan estimasi itu, investasi pasti akan ada di lima persen,”ujar Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus pelaksana jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta kemarin. Dia melanjutkan, kalau pertumbuhan ekonomi diestimasikan 4-4,1 persen, laju investasi diperkirakan hanya tumbuh 3-4 persen. Tetapi, saat ini pertumbuhannya berpeluang melonjak ke level lima persen setelah ada keyakinan laju perekonomian akan lebih baik dibanding target APBN-P. Sri Mulyani lebih lanjut mengatakan, dengan tingkat suku bunga yang relatif stabil dan rendah, kemudian terjaganya inflasi akan mulai menarik investasi pada kuartal III-2009 setelah lewat jeda waktu untuk merespons seluruh faktor pemicunya.

Pada kuartal II-2009 pertumbuhan ekonomi mencapai 2,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jika dibandingkan kuartal yang sama 2008, pertumbuhan ekonomi mencapai empat persen. Laju perekonomian sebesar 2,3 persen ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga 0,2 persen, belanja pemerintah 23,7 persen, investasi 2,4 persen, ekspor barang dan jasa 7,4 persen,serta impor 7,8 persen. Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi empat persen dipicu peningkatan konsumsi rumah tangga 4,8 persen, belanja pemerintah 17 persen, dan investasi 2,7 persen. Sedangkan ekspor dan impor terkontraksi masing-masing 15,7 persen dan 23,9 persen.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah juga sependapat dengan Menkeu. Menurutnya, investasi, terutama di sektor riil, akan muncul pada kuartal terakhir ini. “Adanya ekspektasi stabilitasi politik, keuangan, dan moneter, serta libur Natal ini bisa menarik investasi sektor riil,”paparnya. Di tempat terpisah, Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian Edy Putra Irawady memperkirakan investasi asing yang masuk ke Indonesia pada tahun depan mencapai Rp71,27 triliun.Adapun penyumbang terbesarnya berasal dari sektor manufaktur.

“Investasi langsung dari luar negeri juga akan mengalir untuk sektor manufaktur. Pemerintah mendorong bertambahnya investasi di sektor tersebut karena telah memberikan sumbangan terbesar di perekonomian Indonesia,memberikan devisa,dan juga penyerapan tenaga kerja langsung,”kata dia kemarin. Namun,dia mengatakan,untuk merealisasikan investasi tersebut persoalan yang mendesak untuk dipenuhi adalah ketersediaan infrastruktur dan energi. Selain itu,adalah peningkatan daya saing serta daya tahan industri dalam negeri.

Faktor Penghambat

Sementara itu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, ada lima faktor yang menghambat Indonesia menjadi salah satu negara maju pada 2020 mendatang. Menurutnya, persoalan pertamaadalah daya saing.Ini,kata dia, disebabkan rendahnya pendidikan dan pelatihan penduduk Indonesia.

Masalah kedua adalah, Indonesia belum memaksimalkan produk unggulannya di pasar lokal maupun ekspor, sehingga mudah sekali pasar kita diintervensi oleh produk negara lain.”Kita memang membutuhkan produk unggulan untuk pasar dalam negeri,kemudian baru masuk ke pasar luar negeri,”kata dia. Kemudian ketiga, masih kurangnya sarana infrastruktur di berbagai bidang.Kekurangan infrastruktur itu di antaranya adalah jalan, pelabuhan laut dan udara, energi,gas,dan sebagainya.”Masalah ketiga yang dihadapi adalah kekurangan bahkan ketiadaan infrastruktur.Kalau kita bicara di luar Jawa,lebih kacau,” kata dia.

Keempat adalah masalah perekonomian dan investasi yang tidak kondusif, seperti pelayanan birokrasi dan kepastian hukum. Dan masalah kelima adalah kurangnya dukungan yang luas terhadap inovasi dan kreativitas di bidang teknologi dalam mendukung sektor industri. “Kurangnya dukungan terhadap penemuan- penemuan baru yang justru bisa melakukan terobosan pada pasar,”kata dia. Menurut Fahmi, kelima faktor tersebut menjadi ukuran akan dampak membaiknya perekonomian dunia bagi industri manufaktur.

Dia mengatakan, supaya bisa disebut sebagai negara industri yang maju Indonesia harus memiliki beberapa pencapaian. “Misalnya, sektor industri harus memiliki kontribusi tinggi terhadap perekonomian termasuk produk domestik bruto (PDB). Kemudian sektor industri kecil dan menengah harus seimbang dengan industri besar,”pungkasnya.

Investasi, Investasi kini, Investasi terkini, Investasi terbaru, Investasi baru, Investasi Investasi, gambar Investasi, foto Investasi, video Investasi, biodata Investasi, biografi Investasi, sejarah Investasi, web Investasi, berita terkini, berita terbaru, berita penting, berita dunia, berita Investasiia, berita malaysia, berita melayu, berita indon, berita indonesia, berita kl, berita tv, berita Investasian, berita gay, berita artis, berita hiburan, berita sukan, berita ekonomi, berita sains, berita teknologi, berita kesihatan, berita sejarah, berita politik, berita bf1, dunia, Investasiia, malaysia, melayu, indon, indonesia, foto, gambar, terkini, web, Investasian, baru, macam-macam, Bf-1